Kinerja Membaik, Kimia Farma Perkuat Strategi Bisnis hingga Akhir 2026

Minggu, 06 September 2026 | 19:58:01 WIB
Kimia Farma [FOTO: NET].

JAKARTA - Korporasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) konsisten menggenjot upaya penguatan rumusan strategi bisnis demi mengawal keberlanjutan tren pemulihan perbaikan kinerja keuangan hingga penghujung tahun 2026 mendatang. 

Pihak perseroan bertumpu pada langkah-langkah strategis yang mencakup optimalisasi jaringan operasional, efisiensi di berbagai lini, penguatan kanal penjualan berbasis digital, serta pergeseran orientasi portofolio produk menuju kategori yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Kimia Farma mempertahankan momentum pemulihan kinerja. Sebagai informasi, KAEF berhasil menekan rugi bersih dari Rp842 miliar sepanjang 2024 menjadi Rp334,9 miliar pada 2025.

Perbaikan kinerja operasional tersebut tercatat terus berlanjut memasuki paruh periode semester I-2026.

Secara impresif, KAEF sukses membukukan perolehan laba bersih senilai Rp54,07 miliar, yang sekaligus menandai momentum manis berbalik arah dari posisi rugi pada rentang periode tahun sebelumnya.

Capaian positif kinerja tersebut turut ditopang oleh pertumbuhan perolehan angka penjualan neto sebesar 7,6% hingga menembus level Rp4,70 triliun pada semester I-2026, merangkak naik dari angka Rp4,36 triliun pada semester I-2025.

Sementara itu, perolehan laba usaha melonjak tajam sebesar 111,3% hingga menyentuh angka Rp152,21 miliar dari posisi sebelumnya yang hanya membukukan Rp72,01 miliar.

Corporate Secretary Kimia Farma Ida Rasita mengatakan, perseroan akan terus mendorong pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat produktivitas bisnis yang sudah berjalan.

Salah satu fokus utama penggerak bisnis bertumpu pada sektor layanan ritel yang dikelola langsung melalui PT Kimia Farma Apotek (KFA).

Dengan mengoperasikan jaringan ritel yang mencakup lebih dari 1.000 titik apotek, pihak perseroan tidak semata-mata bernafsu mengejar penambahan kuantitas jumlah gerai fisik baru, melainkan jauh lebih memprioritaskan aspek peningkatan tingkat produktivitas serta profitabilitas dari jaringan outlet yang telah ada saat ini.

“Sepanjang 2026, bisnis ritel Apotek Kimia Farma yang dijalankan oleh anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk, yaitu PT Kimia Farma Apotek, berfokus pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas jaringan, bukan sekadar menambah jumlah gerai,” ujar Ida, Minggu (6/9/2026).

Langkah taktis optimalisasi jaringan tersebut dieksekusi melalui upaya penggenjotan besaran nilai penjualan per gerai (sales per outlet), penguatan komposisi portofolio produk, serta peningkatan standar kualitas pelayanan konsumen.

Di samping itu, pihak perseroan turut menggalakkan efisiensi pada pos manajemen persediaan (inventory) serta pengelolaan biaya, seraya mengoptimalkan adopsi teknologi digital demi mendongkrak tingkat produktivitas operasional secara menyeluruh.

Kendati demikian, dalam hal agenda ekspansi bisnis, Kimia Farma tetap membuka lebar peluang penambahan gerai baru secara selektif dan terukur.

Kebijakan ekspansi tersebut senantiasa memperhitungkan variabel potensi pasar, tingkat urgensi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat, faktor lokasi, hingga tingkat kelayakan aspek ekonomi.

Di luar pengelolaan jaringan fisik konvensional, KAEF juga memperkuat penerapan strategi lintas saluran (omnichannel) guna merespons dinamika perubahan perilaku belanja konsumen modern.

Melalui entitas KFA, perseroan mengembangkan platform aplikasi Kimia Farma Mobile sekaligus memperluas jangkauan akses pasar lewat platform perdagangan digital (marketplace) serta layanan perdagangan cepat (quick commerce) seperti Tokopedia, TikTok Shop, GrabMart, hingga Good Doctor.

Ida mengemukakan penjelasan bahwa kanal digital tersebut diposisikan secara strategis sebagai sarana penunjang tambahan saluran penjualan dan bukan berfungsi sebagai pengganti eksistensi gerai fisik.

Jaringan gerai apotek yang tersebar luas justru dimanfaatkan secara optimal sebagai titik pemenuhan pesanan (fulfillment) serta titik layanan (service point) bagi kelancaran transaksi digital konsumen.

“Perseroan melihat kanal digital dan gerai fisik bukan sebagai dua kanal yang saling menggantikan, melainkan sebagai kanal yang saling melengkapi dan memperkuat,” jelasnya.

Pada aspek perancangan portofolio produk, Kimia Farma secara konsisten menjalankan strategi peralihan bauran produk (switching) menuju kategori ragam komoditas yang menawarkan margin keuntungan lebih tebal.

Langkah taktis ini diorientasikan untuk memperbaiki komposisi bauran penjualan (sales mix) sekaligus mendongkrak profitabilitas lini bisnis ritel secara berkesinambungan.

KFA memperkuat diversifikasi lini produk dari yang mulanya berfokus konvensional pada bisnis obat-obatan menuju kategori produk kesehatan konsumen (consumer health) serta ragam produk dengan margin tinggi (higher-margin products).

Kategori produk utama yang menjadi fokus sasaran meliputi vitamin dan produk suplemen kesehatan, lini produk kecantikan dermatologi (dermocosmetic), produk perawatan diri (personal care), perlengkapan ibu dan bayi (mother & baby), produk manajemen berat badan (weight care), hingga penyediaan ragam perangkat alat kesehatan (medical device).

“Tujuannya bukan hanya meningkatkan penjualan, melainkan juga memperbaiki sales mix dan profitabilitas bisnis ritel,” kata Ida.

Agenda pengembangan kategori produk tersebut dijalankan dengan senantiasa mencermati aspek potensi pasar, tingkat frekuensi pembelian ulang oleh konsumen (repeat purchase), serta besaran marjin keuntungan yang lebih menarik.

KFA juga melakukan penyesuaian bauran produk (product mix) secara spesifik guna mengakomodasi karakteristik kebutuhan konsumen di masing-masing jaringan wilayah apotek.

Menurut pandangan Ida, rangkaian strategi tersebut diharapkan mampu memacu tren pertumbuhan volume penjualan sekaligus memperbesar porsi kontribusi dari kategori produk yang terbukti sanggup memberikan daya dorong pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Di tengah pelaksanaan ragam agenda strategi penguatan korporasi tersebut, pihak Kimia Farma memastikan bahwa seluruh aktivitas operasional bisnis tetap berjalan secara normal dan lancar.

Cakupan kegiatan tersebut meliputi keseluruhan lini proses manufaktur pabrikan, jaringan distribusi logistik, operasional apotek, hingga penyelenggaraan layanan fasilitas kesehatan di seluruh jejaring wilayah Kimia Farma.

Di samping itu, perseroan saat ini juga tengah merampungkan proses pengkajian secara komprehensif atas Putusan Arbitrase Internasional yang berkaitan dengan perkara transaksi investasi serta struktur kepemilikan saham pada tubuh perseroan maupun entitas anak usahanya, seraya terus membangun koordinasi aktif bersama seluruh pemangku kepentingan terkait.

Kimia Farma menegaskan komitmennya untuk senantiasa berpedoman teguh pada ketentuan hukum serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta bersikap kooperatif terhadap instansi otoritas yang berwenang.

Sebagai bagian integral dari ekosistem Holding BUMN Farmasi, KAEF berdiri sebagai korporasi penyedia layanan kesehatan terintegrasi penuh dari hulu hingga hilir.

Perseroan tercatat menguasai kepemilikan sebanyak sembilan fasilitas pabrik produksi, mengoperasikan 44 cabang lini perdagangan dan distribusi (trading & distribution), memiliki jaringan lebih dari 1.000 titik apotek, mengelola lebih dari 350 klinik pelayanan kesehatan, serta mengoperasikan sebanyak 60 unit laboratorium medis.

Terkini