Dampak Masuk Wahana Rumah Hantu Bisa Memicu Risiko Serangan Jantung

Sabtu, 05 September 2026 | 22:16:22 WIB
Ilustrasi Rumah Hantu.

JAKARTA - Memasuki wahana rumah hantu tidak sekadar memicu rasa takut dan kaget, melainkan juga dapat meningkatkan beban kerja organ jantung.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai, khususnya oleh individu yang memiliki riwayat penyakit jantung maupun tekanan darah tinggi (hipertensi).

Dokter Penyakit Dalam IPB University dr Christy Efiyanti, SpPD, menjelaskan bahwa rasa takut memicu respons alami tubuh bernama fight-or-flight.

"Saat menghadapi ancaman, tubuh bereaksi dengan peningkatan detak jantung, denyut nadi yang lebih cepat, dan keluarnya keringat," ungkap dr Christy, dikutip Sabtu (5/9/2026).

Reaksi tubuh ini muncul karena aktifnya sistem saraf simpatis yang merangsang pelepasan berbagai hormon, salah satunya adalah adrenalin.

Efeknya, jantung berdetak kian cepat guna mengalirkan oksigen, sementara pembuluh darah menyempit hingga tekanan darah meningkat tajam.

Menurut dr Christy, kombinasi kenaikan detak jantung dan tekanan darah tinggi membuat beban kerja organ jantung melonjak drastis.

Hal ini berbahaya bagi penderita jantung koroner, gagal jantung, hipertensi, hingga individu dengan gangguan pada irama jantung.

"Beban kerja jantung yang meningkat drastis dalam situasi yang memicu ketakutan hebat dapat berujung pada serangan jantung, meski hal tersebut sangat jarang terjadi," jelasnya.

Lonjakan hormon adrenalin juga berisiko memicu pemicuan pelemahan otot jantung hingga serangan jantung fatal pada penderita penyakit jantung.

Oleh sebab itu, warga yang mengidap riwayat hipertensi atau sering pingsan akibat irama jantung tidak stabil dianjurkan menghindari wahana ekstrem.

Apabila menemukan pengunjung yang pingsan usai ketakutan, baringkan tubuhnya telentang lalu angkat posisi kaki sekitar 30 sentimeter lebih tinggi dari jantung.

Longgarkan pakaian yang ketat dan pastikan korban tidak langsung dipaksa berdiri saat kesadarannya sudah kembali pulih.

"Apabila korban tidak sadar kembali dalam waktu satu menit, segera hubungi layanan darurat setempat. Periksa pula pernapasan dan denyut nadinya," kata dr Christy.

Jika penderita menghentikan napas, tindakan resusitasi jantung paru (CPR) wajib segera diberikan hingga bantuan medis profesional tiba di lokasi.

Terkini