Agen Luar Daerah Beli Gabah Lampung dan Dijual Kembali Jadi Beras Mahal

Jumat, 04 September 2026 | 22:57:01 WIB
Ilustrasi petani panen padi.

JAKARTA - Gabah hasil panen petani di Lampung dilaporkan marak diborong oleh agen dari luar wilayah untuk diproses dan digiling menjadi beras, yang selanjutnya dijual kembali ke pasar Lampung dengan patokan harga lebih melambung.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto memaparkan bahwa para agen luar daerah mendatangi kawasan pusat produksi demi menyerap gabah langsung di tingkat petani.

"Kemudian gabah itu keluar daerah untuk digiling dan diolah menjadi beras sebelum dipasarkan kembali di Lampung dengan harga yang lebih tinggi," kata Bimo, Jumat (4/9/2026).

Bimo mengungkapkan bahwa fenomena tersebut mengikis ketersediaan bahan baku bagi lini penggilingan lokal di Lampung, yang mana pada gilirannya mengganggu stabilitas pasokan beras di wilayah setempat.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menggarisbawahi bahwa dinamika arus keluar gabah ini berkaitan erat dengan lonjakan harga beras di pasaran.

Oleh karena itu, jajaran Pemerintah Provinsi Lampung memberikan perhatian penuh terhadap pergerakan harga beras, mengingat komoditas pokok tersebut menjadi salah satu pemicu utama inflasi daerah.

Isu strategis ini dibahas dalam agenda rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah bersama Bank Indonesia, BPS, Bulog, serta instansi terkait pada Kamis (3/9/2026).

Mirza menyebutkan tingkat inflasi di Lampung mulai merangkak naik, di mana komoditas beras dan daging ayam ras menjadi pendorong utama kenaikan harga pangan.

Ia menilai dinamika tersebut harus segera diantisipasi secara sigap mengingat posisi Lampung yang tergolong sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional.

Pemerintah daerah diarahkan untuk menjamin ketahanan stok pangan domestik tetap terjaga agar pergerakan harga di tingkat konsumen akhir dapat terkontrol dengan baik.

"Penguatan produksi dan penggilingan di dalam daerah menjadi bagian penting untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus memperpendek rantai distribusi," kata dia.

Hasil gabah lokal diharapkan dapat diserap secara optimal oleh fasilitas penggilingan daerah, sehingga produksi berasnya dapat langsung disalurkan untuk memenuhi kebutuhan warga Lampung.

"Tidak apa-apa harga gabahnya bagus, yang penting berasnya itu dari Lampung," katanya.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, total hasil panen gabah lokal sebenarnya sangat mencukupi kebutuhan beras masyarakat.

Hingga kurun September 2026, akumulasi produksi Gabah Kering Panen (GKP) menyentuh angka 2,85 juta ton dari total luas areal panen sekitar 535.000 hektare.

Dengan estimasi perhitungan tingkat rendemen sekitar 53 hingga 54 persen, volume panen tersebut berpotensi menghasilkan pasokan beras hingga 1,9 juta ton.

Sementara itu, Bulog Lampung mencatat ketersediaan cadangan beras pemerintah kategori medium per 1 September 2026 masih aman di kisaran 232.000 ton.

Persediaan tersebut disiagakan sebagai instrumen intervensi pasar guna menjaga kestabilan pasokan dan harga bilamana terjadi kejutan harga di pasaran.

Terkini