Bauran EBT Turun ke 17%, METI Gelar IndoEBTKE 2026 untuk Percepat Investasi Hijau

Senin, 31 Agustus 2026 | 14:28:00 WIB

BULETINENERGI.COM — Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam transisi energi. Capaian bauran EBT yang baru menyentuh 17%—justru terkoreksi dari posisi kuartal pertama—menjadi latar mengapa forum IndoEBTKE ConEx 2026 digelar. Ajang ini mencoba menjawab salah satu hambatan terbesar pengembangan energi bersih: pendanaan.

Koreksi bauran EBT tersebut dipicu oleh beroperasinya sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama gas bumi, dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan kapasitas listrik masih didominasi energi konvensional.

Menghubungkan Proyek dengan Sumber Dana

Sekretaris Jenderal METI Elvi Nasution yang juga ketua panitia mengatakan, forum ini dirancang sebagai ruang temu antara pengembang proyek dengan lembaga keuangan nasional maupun internasional. Tujuannya sederhana: mempercepat eksekusi proyek yang sudah masuk tahap konstruksi hingga operasi.

"Kami jadikan ruang temu antara pengembang, penyedia teknologi, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut," ujar Ketua Umum METI Norman Ginting dalam keterangan di Jakarta, Senin (31/8).

Gelaran ini diselenggarakan bersama Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) dengan dukungan Kementerian ESDM. Selain membuka akses investasi hijau, forum ini juga menyoroti penguatan ketahanan sistem energi nasional melalui kolaborasi regional dan inovasi teknologi.

Efisiensi Energi Jadi Pilar Kunci

Di tengah fokus pada proyek pembangkit, Ketua Umum MASKEEI Andhika Prastawa mengingatkan bahwa konservasi energi sama pentingnya dengan produksi energi baru. Pihaknya mendorong percepatan adopsi teknologi hemat energi, khususnya di sektor industri dan komersial.

"Kami mendorong penguatan implementasi konservasi dan efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan skema energy efficiency as a service," katanya.

Pendekatan ini dinilai relevan karena efisiensi bisa menjadi solusi cepat tanpa menunggu pembangunan infrastruktur pembangkit baru yang memakan waktu bertahun-tahun.

Target Ambisius: PLTS 100 GW hingga Bioetanol E20

METI mencatat sejumlah agenda strategis yang perlu diakselerasi ke depan. Norman, yang juga menjabat Direktur Proyek & Operasi Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), menyebut pengembangan PLTS 100 GW, implementasi bioetanol E20, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi prioritas.

"Pengembangan energi baru terbarukan harus menjadi fondasi ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan kapasitas industri dan teknologi nasional," ujarnya.

Ia menambahkan, METI berkomitmen memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah. Transisi energi tidak hanya soal pengurangan emisi, tetapi juga momentum memperkuat kemandirian energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis energi bersih.

Dengan capaian bauran EBT yang masih jauh dari target, pertemuan seperti IndoEBTKE ConEx 2026 menjadi ujian nyata apakah komitmen transisi energi bisa diterjemahkan menjadi proyek yang beroperasi dan menarik investasi riil.

Terkini