BULETINENERGI.COM — Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner kembali menunjukkan ketahanannya di tengah tekanan ekonomi. Salah satunya dialami Ika Safitri dan suaminya, Harun, warga Depok, Jawa Barat, yang sukses mengembangkan usaha cireng isi bermerek 'Cireng Asik' setelah keduanya kehilangan pekerjaan.
Dari Gerobak Depan Sekolah ke Toko Online
Pasangan suami istri ini memulai usaha pada 2024 dengan modal awal Rp2 juta. Awalnya, mereka berjualan mangkal di depan sekolah di Jalan Merdeka, Kota Depok, dengan target pembeli anak sekolah. Cireng isi dijual Rp1.000 per buah.
Harun, yang rajin belajar dari grup penjual cireng di Facebook, bertanggung jawab menjaga lapak. Sementara Ika mengurus anaknya yang berusia tiga tahun. Penjualan awal hanya 200 buah per hari, namun meningkat hingga 500 buah dalam beberapa bulan.
Perkembangan usaha ini menarik minat pedagang kantin sekolah untuk menjadi reseller. Dari penjualan di kantin dan lapak depan sekolah, omzet harian mereka mencapai Rp400 ribu.
Ekspansi ke Marketplace dan Tantangan Pengiriman
Perluasan pasar dilakukan Ika dengan membuka akun penjual di Shopee pada pertengahan tahun lalu. Keputusan ini diambil karena platform tersebut dinilai memiliki jangkauan pasar terbesar. Saat ini, kontribusi penjualan online mencapai 60 persen, melampaui penjualan langsung di sekolah.
Perjalanan di marketplace tidak tanpa hambatan. Ika mengaku sempat mengalami kegagalan pengiriman karena produk basi. Solusinya ditemukan dengan menggoreng cireng setengah matang dan mengemasnya dengan metode vakum.
"Setelah nemuin metode kayak setengah digoreng, divakum gitu kan, baru ternyata aman. Bahkan sempat beberapa kali kirim ke luar Pulau Jawa itu aman," kata Ika kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/8).
Meski demikian, Ika membatasi pengiriman hanya ke Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, dan Bali untuk menjaga kualitas produk. Ke depan, ia berencana mempekerjakan saudaranya untuk membantu produksi seiring meningkatnya permintaan.
Strategi Bertahan di Tengah Fluktuasi Pasar
Ika menegaskan pilihan pada cireng isi bukan tanpa pertimbangan. Menurutnya, makanan berbahan dasar aci ini bukan jajanan viral yang mudah ditinggalkan konsumen.
"Itu jadi salah satu alasan milih cireng, karena bukan makanan viral yang sebentar," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi berjualan untuk mempertahankan pelanggan. Menurut Ika, pedagang kecil harus menjaga ritme produksi harian agar pembeli tidak kecewa.
"Kalau hari ini kita jualan, besok enggak, nanti orang malah, ih gimana sih, kok udah tutup aja gitu, ih kok enggak buka gitu," jelas Ika.
Dengan omzet yang stabil, usaha ini menjadi penyangga ekonomi keluarga setelah sebelumnya beberapa kali mencoba usaha lain yang tidak bertahan lama.