Perluas Produksi, Unilever Oleochemical Tanam Modal Rp2,59 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:14:02 WIB
Wakil Gubernur Sumut Surya menghadiri Peresmian Perluasan Produksi PT Unilever Oleochemical Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) memperluas operasional fasilitas produksi Fatty Alcohols di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Rabu (26/8/2026). 

Ekspansi senilai US$155 juta atau setara dengan Rp2,59 triliun tersebut diproyeksikan untuk menggenjot kapasitas sektor industri oleokimia nasional sekaligus mendongkrak daya saing komoditas turunan kelapa sawit di kancah global.

Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengemukakan bahwa pengembangan fasilitas produksi PT UOI di KEK Sei Mangkei diharapkan tidak sebatas mendongkrak kapasitas industri, tetapi juga menghadirkan imbas positif ekonomi yang kian luas bagi warga setempat.

Menurut Surya, parameter keberhasilan penanaman modal tidak cukup dinilai dari besaran modal yang masuk atau kuantitas volume produksi semata, melainkan pula dari sejauh mana efeknya terhadap penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan keahlian sumber daya manusia (SDM), serta keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika investasi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap pengembangan operasional ini semakin membuka ruang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat kompetensi sumber daya manusia kami, serta memperluas kemitraan dengan UMKM,” ujar Surya saat menghadiri peresmian pengembangan operasional produksi PT UOI di Marvel 3 Hall KEK Sei Mangkei.

Surya mengimbau agar korporasi-korporasi besar yang beroperasi di KEK Sei Mangkei konsisten membangun mata rantai pasok yang merangkul pelaku usaha lokal. Menurutnya, partisipasi aktif dari para pemasok serta penyedia jasa asal daerah memegang peran krusial dalam merintis ekosistem industri yang inklusif.

“Kami ingin industri besar tumbuh bersama masyarakat. Keterlibatan UMKM dan tenaga kerja lokal akan membuat manfaat ekonomi dari keberadaan KEK Sei Mangkei ini dirasakan secara inklusif dan merata,” katanya.

Di samping mendatangkan multiplier effect bagi perekonomian lokal, ekspansi PT UOI ini sekaligus memperkokoh posisi tawar Provinsi Sumatera Utara dalam peta hilirisasi industri kelapa sawit. Surya memaparkan bahwa Sumut memegang potensi besar sebagai salah satu sentra produsen sawit utama di Indonesia dengan angka produksi mencapai 5,2 juta ton pada sepanjang tahun 2024.

Dari aspek dukungan infrastruktur, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menuturkan bahwa pemerintah terus mengoptimalkan kesiapan suplai energi di KEK Sei Mangkei guna menjamin keberlangsungan iklim investasi. Salah satu langkah konkretnya yakni pembangunan jaringan pipa gas rute Dumai–Sei Mangkei senilai Rp3,5 triliun yang dirancang untuk mengamankan pasokan energi kawasan industri tersebut.

Selain pasokan gas bumi, pemerintah turut memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) lewat akselerasi operasional sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA), termasuk di antaranya PLTA Batang Toru berdaya 510 megawatt (MW) serta PLTA Asahan 3 berkapasitas 150 MW.

Berdasarkan pandangan Yuliot, ketersediaan pasokan energi yang stabil dan bahan baku yang memadai dalam satu kawasan terpadu menjadi kunci utama dalam mendongkrak daya saing produk industri Indonesia di pasar internasional.

“Dengan ketersediaan gas, listrik terbarukan, dan bahan baku yang cukup di dalam satu ekosistem KEK Sei Mangkei, daya saing produk industri kami di pasaran global akan menjadi sangat tinggi,” ujar Yuliot.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang mencatat bahwa hingga pertengahan tahun 2026, KEK Sei Mangkei telah berhasil menghimpun akumulasi investasi menembus US$1,87 miliar dari total 29 pelaku usaha. Geliat investasi tersebut tercatat sukses menyerap lebih dari 16.000 tenaga kerja.

PT UOI sendiri tercatat sebagai salah satu investor jangkar utama dengan total akumulasi investasi mencapai US$52 juta, di luar gelombang ekspansi terbarunya ini. Sepanjang semester I/2026, nilai ekspor PT UOI membukukan angka US$403 juta atau menyumbang lebih dari separuh total keseluruhan ekspor KEK Sei Mangkei yang berada di level US$778 juta.

“Kontribusi ini membuktikan hilirisasi kelapa sawit di Indonesia mampu bersaing langsung di rantai nilai global,” ujar Rizal.

Bidik Ekspor 30 Negara

Chief Supply Chain Officer Unilever Willem Uijen menyampaikan bahwa keseluruhan fasilitas operasional UOI ditargetkan sanggup mengirimkan hingga 600.000 ton produk oleokimia ke lebih dari 30 negara tujuan dengan proyeksi nilai ekspor menyentuh US$800 juta.

Bagi Willem, realisasi pengembangan pabrik ini tidak sekadar berfokus pada perluasan kapasitas produksi semata, melainkan merupakan wujud nyata komitmen perseroan terhadap penerapan standar manufaktur berkelanjutan yang berbasis bioenergi sirkular.

“Pabrik fatty alcohol ini memperkuat kemampuan Indonesia memproduksi oleokimia bernilai tinggi. Investasi ini bukan sekadar perluasan kapasitas produksi, tetapi juga dedikasi kami pada manufaktur rendah karbon berbasis bio-energi sirkular, serta komitmen memberdayakan tenaga kerja dan masyarakat lokal,” tutur Willem.

Melalui ekspansi masif ini, KEK Sei Mangkei kian memantapkan posisinya sebagai salah satu pusat utama hilirisasi industri berbasis kelapa sawit di Tanah Air. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menaruh harapan besar agar kehadiran investasi kelas dunia ini mampu melipatgandakan nilai tambah komoditas lokal serta memperluas kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat luas.

Terkini