Investor Asing Berburu SRBI Picu Risiko Biaya Dana Perbankan 2026

Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:04:51 WIB
Ilustrasi Rupiah.

JAKARTA - Tingkat stabilitas sektor keuangan domestik saat ini dinilai masih cukup solid. Meski demikian, lonjakan kepemilikan investor asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mendatangkan tantangan kerentanan tersendiri, khususnya bagi industri perbankan nasional.

Selama ini SRBI diandalkan sebagai salah satu instrumen moneter Bank Indonesia untuk menyedot arus modal asing sekaligus memelihara daya pikat aset rupiah. Namun, karena memiliki durasi tenor yang terhitung pendek, instrumen ini menjadi sangat peka terhadap dinamika sentimen keuangan global.

Catatan Bank Indonesia memperlihatkan posisi kepemilikan SRBI pada pekan kedua Agustus 2026 menyentuh angka Rp1.038,9 triliun. Angka tersebut tercatat sedikit melandai ketimbang posisi pada akhir Juli 2026 yang sempat berada di level Rp1.059,3 triliun.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengamati bahwa ditinjau dari sisi likuiditas internal, fondasi perbankan sejatinya amat tebal dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga di level 23,08 persen per Juni 2026.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa kualitas penyokong nilai tukar rupiah berisiko lebih rentan lantaran aliran dana modal asing kian terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.

Berdasarkan data Juli 2026, porsi kepemilikan bank domestik pada SRBI tergerus dari kisaran 81 persen menjadi 59 persen. Sebaliknya, porsi porsi investor asing melonjak tajam dari 16 persen menjadi 27 persen, atau mencapai nilai Rp301,95 triliun per 13 Agustus 2026.

Josua menjelaskan bahwa risiko timbul akibat ekspansi SRBI yang mayoritas diserap oleh asing, bukan karena perbankan melakukan aksi lepas aset secara masif.

Ketergantungan modal asing yang terlampau pekat pada SRBI berisiko tinggi. Pasalnya sepanjang 2026, dana asing yang masuk ke SRBI sudah menembus US$9,41 miliar, berbanding jauh dengan pasar SBN yang cuma menarik US$0,61 miliar dan pasar saham yang justru tertekan capital outflow.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Irman Faiz menilai pergeseran porsi asing ini dapat berimbas pada lonjakan biaya pendanaan perbankan (cost of funds).

Apabila timbul pergolakan geopolitik atau penguatan dolar AS, investor asing dapat melepas porsi rupiah secara kilat. Kondisi tersebut memaksa bank mengerek suku bunga simpanan demi mempertahankan dana nasabah agar tetap kompetitif.

Pandangan senada diutarakan Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan. Menurutnya, potensi capital outflow dari instrumen berjangka pendek dapat menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan.

Kendati demikian, para ahli sepakat situasi ini belum memicu tekanan likuiditas yang bersifat sistemik. Tantangan utama BI ke depan adalah menjaga keseimbangan fungsi stabilisasi rupiah tanpa mengesampingkan kebutuhan likuiditas sektor riil

Terkini