Tanggap Darurat Gempa NTT, Kemenkes Kerahkan 206 Relawan Medis

Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:27:31 WIB
Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan secara resmi memberangkatkan sebanyak 206 personel relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) menuju wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah cepat ini diambil sebagai wujud penanggulangan krisis sektor kesehatan menyusul bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Pulau Flores.

Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, memaparkan melalui keterangan tertulis di Jakarta pada hari Rabu bahwa ratusan relawan tersebut akan mengemban misi penugasan selama 14 hari ke depan di enam kabupaten yang mengalami dampak terparah, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, serta Sikka.

"Gempa yang terjadi pada 15 Agustus tersebut berdampak terhadap 1,9 juta jiwa di tujuh kabupaten/kota. Berdasarkan data Pusat Krisis Kesehatan per 23 Agustus 2026, bencana ini mengakibatkan 91 orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka, dan 161.874 warga mengungsi. Gempa juga memicu kelumpuhan sejumlah fasilitas kesehatan setempat," katanya.

Lebih lanjut, Kunta menitipkan tiga poin arahan penting kepada seluruh relawan yang bertugas. Pertama, para relawan dipersilakan untuk memusatkan perhatian pada identifikasi serta penuntasan krisis medis di lapangan. Kedua, setiap individu wajib menyatu dalam kolaborasi tim yang kokoh tanpa sekat perbedaan latar belakang institusi. Ketiga, seluruh relawan harus senantiasa mengutamakan aspek keselamatan personal.

"Saudara berangkat untuk membantu korban, bukan menjadi korban berikutnya. Jangan menganggap kelelahan sebagai tanda pengabdian," dia mengingatkan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, merinci bahwa rombongan relawan gelombang ini berjumlah 128 orang yang mencakup dokter umum, beragam dokter spesialis meliputi spesialis penyakit dalam, anak, bedah, serta ortopedi, di samping tenaga perawat, bidan, hingga tenaga farmasi.

Kekuatan tim medis tersebut nantinya akan turut disokong oleh kehadiran 78 dokter internsip yang memang sudah berada di wilayah Pulau Flores.

Pengerahan tenaga medis tambahan ini dilandasi oleh panggilan nurani kemanusiaan yang kuat dari para relawan. Bagi Bidan Istiqomah, seorang relawan yang mendapat penugasan ke Kabupaten Nagekeo, keikutsertaannya kali ini menandai pengalaman kedua bergabung bersama jajaran TCK setelah sebelumnya terjun langsung menanggulangi krisis di Tamiang, Aceh, pada bulan Desember 2025.

Alih-alih merasa gentar menghadapi medan penanggulangan bencana yang tergolong berat, Istiqomah yang sehari-hari bertugas sebagai pegawai RSUP Fatmawati justru mengaku bahwa pengalaman lampau itu semakin membakar semangat pengabdiannya untuk menolong sesama.

"Kalau buat saya, menjadi relawan ini rasanya malah nagih. Persiapannya yang paling utama adalah fisik dan obat-obatan pribadi. Harapannya, semoga semua warga di Ende bisa kami bantu dan lekas pulih," tuturnya.

Niat luhur serta dedikasi serupa turut disuarakan oleh Muhammad Amir Sahala, seorang dokter spesialis ortopedi asal RS Fatmawati yang dijadwalkan bertugas di RSUD Borong, Manggarai Timur. Ia memandang bahwa lonjakan kebutuhan penanganan medis di lokasi bencana mendesak untuk segera direspons, terkhusus bagi para korban yang menderita luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

"Banyak korban yang membutuhkan di tengah kekurangan tenaga kesehatan saat ini. Pasti kami akan jadi respons utama untuk membantu korban agar semua dapat tertangani dan mendapat perawatan yang terbaik," ungkap Amir.

Kehadiran korps TCK ini diproyeksikan mampu mendongkrak kapasitas serta memperkuat barisan tenaga kesehatan daerah yang telah berjuang sejak hari pertama bencana, sekaligus menjamin keberlangsungan pelayanan esensial sampai sistem fasilitas kesehatan lokal pulih secara total.

Terkini