Barantin dan Pemprov Banten Lepas Ekspor Rp40,8 Miliar ke China

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:07:50 WIB
Kepala Badan Karantina Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melepas pengiriman ekspor tiga komoditas tropis unggulan, yakni manggis, kepiting, serta walet dengan nilai menembus Rp40,8 miliar lebih ke pasar China.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding menyampaikan, pengiriman ekspor komoditas tropis ini dieksekusi lewat program "Merdeka Ekspor" yang ditujukan guna mendongkrak daya saing produk lokal agar mampu merambah pasar global dengan memenuhi standar mutu yang ditetapkan negara tujuan.

"Bentuknya adalah pelepasan terhadap tiga komoditas ekspor, khususnya ke China, yaitu manggis, kepiting, dan walet," ujar Karding usai melepas ekspor komoditas tropis di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Jumat. (21/8/2026).

Ia menerangkan, kegiatan "Merdeka Ekspor" yang dihelat dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan RI ini mencakup tiga komoditas tropis asal Indonesia yang mencatatkan tingkat permintaan sangat tinggi di pasar internasional.

Oleh sebab itu, lewat pelepasan ekspor ini Barantin memacu agar pengiriman tidak sekadar berhenti pada komoditas bahan mentah, melainkan turut mengoptimalkan alur hilirisasi.

"Hilirisasi nanti harus berjalan. Seperti tadi ada sup walet yang instan itu, kemudian ada mineral walet nanti bisa diekspor, pastinya nilai tambah tenaga kerja jadi banyak," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Karding turut membeberkan bahwa guna menopang peningkatan ekspor, pihak instansi meluncurkan model layanan bernama Klinik Ekspor.

Langkah ini ditempuh untuk mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani yang kerap menjumpai kendala dalam memenuhi standar internasional.

"Layanan ini berfungsi sebagai sarana pendampingan bagi para pelaku usaha untuk mempersiapkan diri memenuhi standar mutu dan protokol ekspor yang disepakati negara tujuan," paparnya.

Ia mengakui, saat ini tantangan utama yang dihadapi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berkaitan dengan keterbatasan manajemen standar kualitas, akses permodalan, serta upaya menjaga konsistensi dan persistensi mutu produk di lapangan.

"UMKM itu problemnya adalah standar, karena kan manajemen mereka juga manajemen yang terbatas itu, kalau untuk ekspornya," kata dia.

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengakui bahwa laju pertumbuhan ekspor di wilayah Banten sempat terkoreksi akibat tekanan dinamika global saat ini.

Kendati begitu, Banten tetap kokoh diposisikan sebagai salah satu sentra produksi produk ekspor utama sekaligus pusat hilirisasi nasional.

"Banten masih menjadi salah satu sentra produksi produk-produk ekspor yang ada di Indonesia. Kemudian kebijakan pemerintah, Provinsi Banten merupakan salah satu pusat hilirisasi," ungkapnya.

Ia menambahkan, posisi geografis Banten yang strategis dengan topangan akses dekat ke bandara, area laut yang luas, serta sektor pertanian yang produktif menyajikan potensi besar untuk memasarkan produk lokal ke mancanegara.

Guna mengatasi hambatan pengetahuan di kalangan UMKM, Pemprov Banten mengerahkan seluruh jajaran kepala dinas untuk menindaklanjuti program pembinaan, termasuk mengintegrasikan layanan Klinik Ekspor bersama Balai Karantina Provinsi Banten di area bandara.

Lewat kolaborasi lintas sektoral ini, Barantin bersama Pemprov Banten berkomitmen memastikan tugas pengawasan karantina tidak hanya berfokus di border sebagai pengamanan hayati (biosecurity), melainkan sanggup mendampingi pelaku usaha lokal untuk memenuhi standar mutu, ketelusuran (traceability), serta protokol perdagangan global yang berlaku.

"Maka hari ini saya didampingi oleh seluruh kepala dinas saya untuk berikutnya menindaklanjuti, salah satunya adalah klinik karantina yang akan dilakukan oleh teman-teman dari Balai Karantina Provinsi Banten yang ada di bandara," kata dia.

Terkini