Menko Pangan Zulhas Kawal Masalah Irigasi Petani Banyuwangi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:36:01 WIB
Zulkifli Hasan [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong pembenahan jaringan irigasi serta penguatan kelembagaan petani di Banyuwangi, Jawa Timur, demi mengawal produktivitas pertanian sekaligus menyokong swasembada pangan nasional.

Menko Pangan mengimbau warga menyampaikan pelbagai kendala dan keluhan lewat pemerintah daerah setempat untuk ditindaklanjuti, serta memberikan tembusan kepadanya agar bisa mendampingi penanganannya.

“Kalau ada masalah dan keluhan masyarakat, sampaikan melalui pemerintah daerah setempat dan ditembuskan kepada saya, supaya bisa kami kawal,” ucap Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Ia mengutarakan hal tersebut saat berdiskusi dengan para petani dalam acara Jagong Tani Guyup Rukun di Banyuwangi, Kamis (20/8), termasuk merundingkan permasalahan pengairan.

Agenda itu dihadiri oleh sekitar 715 pengurus dan petugas irigasi dari enam kecamatan yang masuk dalam cakupan Daerah Irigasi (DI) Baru.

Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan mencatat DI Baru melingkupi sekitar 16.000 hektare sawah atau kurang lebih seperempat dari total areal persawahan Banyuwangi dengan potensi hasil padi berkisar 200.000 ton per tahun, sehingga tata kelola saluran irigasi menjadi faktor krusial untuk menjaga produktivitas wilayah tersebut.

Dalam diskusi, petani mengeluhkan masalah pendangkalan di sejumlah alur sungai dan saluran yang mengganggu distribusi air, termasuk pada kawasan Ringin Agung yang jaringan pengairannya mengaliri sekitar 645 hektare lahan.

Petani mengajukan usulan normalisasi saluran, pengerukan endapan lumpur, hingga sokongan sarana pengairan, seperti penyediaan sambungan listrik menuju embung dan lintasan air darurat demi menggenjot pasokan air bagi lahan pertanian.

Zulhas mengungkapkan bahwa tim terkait telah menggelar peninjauan lapangan dan pemerintah bakal mendorong tindak lanjut pembenahan jaringan irigasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum.

Petani turut mengusulkan pembangunan maupun pembenahan infrastruktur pertanian dapat dieksekusi lewat jalur swakelola sesuai aturan dengan melibatkan kelembagaan masyarakat dan petani.

Di samping masalah pengairan, petani memaparkan situasi harga gabah serta pupuk. Zulhas menyampaikan bahwa penyaluran dan harga pupuk saat ini dipandang kian membaik, sedangkan harga gabah pada musim panen sebelumnya dilaporkan menembus lebih dari Rp7.000 per kilogram (kg).

“Pupuk sudah bagus, harganya lancar. Mereka juga menyampaikan harga gabah bagus, bahkan panen yang lalu sampai Rp7.000 (per kg) lebih, yang biasanya Rp5.000 (per kg) lebih. Pendapatannya meningkat,” katanya.

Penguatan kelembagaan beserta akses pasar turut menjadi salah satu poin pembahasan. Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ditargetkan mulai berjalan pada September demi membantu petani mencukupi kebutuhan usaha tani, mengokohkan pemasaran, serta mendongkrak daya tawar produk pertanian.

Untuk komoditas sayuran, ketersediaan sarana penyimpanan dingin atau cold storage juga diharapkan mampu menopang daya tahan kualitas dan nilai ekonomis hasil panen.

Pemerintah memandang pembenahan irigasi, penguatan kelembagaan petani, kepastian pasokan pupuk, hingga perluasan jangkauan pasar mesti berjalan selaras untuk memelihara produktivitas sekaligus mengerek kesejahteraan petani sebagai bagian dari ikhtiar merealisasikan swasembada pangan nasional.

Terkini