Proyeksi IHSG 2026 Dipangkas ke 6.800, Cek 8 Saham Pilihan Mirae Asset

Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:28:32 WIB
Pengunjung melihat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA — Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas target indeks harga saham gabungan (IHSG) akhir 2026 menjadi 6.800 dari proyeksi semula sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menerangkan bahwa pemangkasan target tersebut mencerminkan penyesuaian asumsi makroekonomi sekaligus peningkatan risiko yang dihadapi pasar saham nasional.

“Target indeks harga saham gabungan akhir 2026 dipangkas menjadi 6.800,” paparnya, Selasa (18/8/2026).

Pada skenario dasar (base case), Mirae Asset memperkirakan IHSG berada pada level 6.800 pada akhir 2026 atau menyimpan potensi penguatan sekitar 11,3%. Target tersebut berpijak pada asumsi price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,1 kali atau berada di kisaran 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun.

Hingga penutupan tahun 2026, Mirae memprediksi laju pertumbuhan ekonomi hanya berada pada angka 4,8% dengan tingkat suku bunga BI Rate sebesar 6%. Nilai tukar rupiah juga diproyeksikan tertahan di level Rp18.000 per dolar AS dan imbal hasil (yield) SBN 10 tahun mencapai 7,50%.

Rully menyampaikan bahwa kondisi pasar saat ini telah bergeser dari fokus menjaga nilai tukar ke arah kebijakan yang menopang pertumbuhan ekonomi. Menurut pandangannya, realisasi fiskal, likuiditas perbankan, serta kualitas laba emiten bakal menjadi kunci utama pergerakan IHSG.

Di sisi lain, tekanan risiko dari kebijakan The Federal Reserve mulai menyusut. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September turun drastis, sedangkan posisi indeks dolar AS (DXY) yang bertahan di bawah level 100 ikut melonggarkan tekanan eksternal atas rupiah.

Rupiah pun memperlihatkan sinyal kestabilan meskipun selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury (UST) kian menyempit. Situasi ini menandai sensitivitas rupiah terhadap imbal hasil nominal yang mulai mereda.

Dari ranah kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) dinilai sudah mendekati level terminal rate. Kendati masih ada ruang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, bauran kebijakan mulai bertransisi dari penstabilan kurs menuju dukungan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, laju penguatan SBN dinilai menemui batas dari faktor domestik. Tingginya permintaan perbankan menjadi salah satu penyokong reli, sedangkan dorongan penyaluran kredit dan pasokan bersih SBN dapat membatasi ruang penurunan imbal hasil lebih jauh.

Rully berpendapat faktor domestik akan kian dominan menentukan arah IHSG. Realisasi defisit fiskal pada semester II/2026 serta penerbitan bersih SBN menjadi indikator penting yang harus dipantau pemodal guna menilai kredibilitas fiskal pemerintah.

Dari sudut pandang emiten, kualitas laba menjadi acuan krusial dalam menyaring saham yang berpotensi outperform. Para pemodal dianjurkan lebih cermat dengan memprioritaskan perusahaan yang memiliki pricing power, ketahanan margin, kondisi neraca yang sehat, serta kejelasan prospek pertumbuhan pada semester II/2026.

Mengenai risiko MSCI, kondisinya dinilai makin terkendali walau belum sepenuhnya hilang. Potensi reklasifikasi status Indonesia dari emerging market telah melandai, namun November 2026 tetap menjadi periode pengamatan penting bagi investor.

“Indonesia tetap dapat diinvestasikan, tetapi perdagangan yang sebelumnya didorong oleh perbaikan kondisi makro yang mudah mulai bergeser menjadi pasar yang lebih selektif, yang didorong oleh kredibilitas fiskal, alokasi likuiditas, dan kualitas laba,” tulis Rully.

Adapun jajaran saham yang menjadi rekomendasi utama Mirae Asset Sekuritas Indonesia terdiri dari PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), serta PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP).

Terkini

Lada Putih Asal Bangka Belitung Tembus 1.200 Restoran Dunia

Selasa, 18 Agustus 2026 | 03:06:01 WIB

QLola BRI Hadir dengan Wajah Baru yang Lebih Intuitif

Selasa, 18 Agustus 2026 | 03:01:31 WIB

Ekonom Proyeksi BI Rate Bertahan di Level 5,75 Persen

Selasa, 18 Agustus 2026 | 03:00:01 WIB

Posisi Urutan Lahir Anak Pengaruhi Risiko Penyakit Tertentu

Selasa, 18 Agustus 2026 | 02:53:32 WIB