Penjelasan Manajemen Usai Saham GOTO Terdepak dari Indeks MSCI 2026

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:52:01 WIB
Ilustrasi Warga berbelanja secara daring menggunakan e-commerce Tokopedia.

JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memberikan klarifikasi bahwa keputusan pengeluaran saham perseroan dari indeks MSCI Global Standard murni didasari kendala teknis dan sama sekali tidak mencerminkan kondisi fundamental bisnis perusahaan.

Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny mengungkapkan bahwa manajemen memahami kekecewaan yang dirasakan oleh sebagian pemegang saham atas pengumuman tersebut.

Kendati demikian, ia meluruskan bahwa kebijakan MSCI dipicu oleh pergerakan harga saham GOTO yang menyentuh batas bawah Rp50 serta sepinya volume transaksi harian di pasar saham.

“Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja Perseroan,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (5/8/2026).

Di tengah pengumuman indeks tersebut, GOTO justru memamerkan pemulihan kinerja keuangan yang kian solid.

Sepanjang kuartal II-2026, perseroan sukses membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar, menorehkan rekor positif selama dua kuartal berturut-turut.

Selain itu, nilai pendapatan bersih berhasil dikerek hingga menyentuh Rp5,7 triliun pada kuartal II-2026.

Capaian ini disokong oleh rekor baru EBITDA Grup yang disesuaikan, di mana untuk pertama kalinya melampaui angka Rp1 triliun.

Kinerja mentereng ini menjadi bukti kuat bahwa efisiensi operasional dan perbaikan ekosistem GOTO berjalan sesuai alur yang direncanakan.

Manajemen pun optimistis pencapaian hingga pertengahan tahun ini masih sangat sejalan dengan target yang telah ditetapkan.

GOTO tetap mempertahankan panduan kinerja tahunan dengan mematok target EBITDA Grup yang disesuaikan berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Mengenai dinamika dengan indeks global tersebut, GOTO memandang evaluasi konstituen merupakan prosedur rutin tahunan dan pihak manajemen siap melanjutkan pembicaraan konstruktif bersama pihak MSCI.

“Sementara itu, kami akan tetap fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham,” tutur Audrey.

Sebagai gambaran konteks pasar, MSCI sebelumnya mengonfirmasi tidak ada perubahan posisi Indonesia dalam ajang Annual Country Review 2026 untuk MSCI Frontier Emerging Markets Index.

Namun, dalam ajang MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review, terdapat 10 emiten asal Indonesia yang terdepak, terdiri dari dua saham pada kelas Global Standard dan sembilan saham pada kategori Small Cap.

Salah satu emiten, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), turun kelas dari indeks Standard menuju Small Cap.

Untuk kategori MSCI Global Standard Indexes, tidak terdapat penambahan saham baru dari Indonesia, melainkan pengeluaran untuk saham CPIN dan GOTO.

Terkini