Harga Emas Dunia Bertahan di US$4.400 Berkat Permintaan Safe Haven

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:28:31 WIB
Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam [FOTO: NET].

JAKARTA — Banderol emas dunia bertahan di kisaran level US$4.400 per troy ounce pada sesi perdagangan Selasa (11/8/2026) akibat dorongan permintaan aset safe haven menyusul memanasnya situasi di Selat Hormuz. Di sisi lain, apresiasi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) beserta proyeksi suku bunga yang masih tinggi turut mengerem laju kenaikan tersebut.

Berdasarkan laporan Kitco pada Rabu (12/8/2026) penutupan perdagangan Selasa sore waktu setempat, harga emas spot berada di posisi US$4.412,50 per troy ounce, mencatatkan penguatan 0,56%.

Saat ini pasar komoditas tengah dihadapkan pada tarik-menarik berbagai sentimen. Data tenaga kerja AS yang cenderung lemah pekan lalu masih memberikan sokongan bagi emas yang karakternya sensitif terhadap dinamika suku bunga. Kendati demikian, lonjakan harga minyak bumi serta tren inflasi AS yang belum surut membuat probabilitas pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve pada bulan September kembali berimbang.

Posisi imbal hasil (yield) US Treasury bertenor 10 tahun terpantau berada di sekitar 4,7%, sementara dolar AS menunjukkan pergerakan menguat. Perpaduan faktor ini membuat arus modal defensif terus menopang pergerakan emas, meski potensi kenaikannya menjadi lebih terbatas.

Fokus perhatian pelaku pasar selanjutnya beralih pada rilis data inflasi konsumen atau consumer price index (CPI) AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu (12/8/2026), disusul data producer price index (PPI) keesokan harinya, Kamis (13/8). Kedua rilis data makroekonomi tersebut bakal menjadi acuan vital bagi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Di samping itu, eskalasi ketegangan di Selat Hormuz kembali menjadi pemicu premi risiko di pasar komoditas global. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru menjabat menegaskan bahwa jalur strategis tersebut akan terus ditutup hingga pihak Washington menyetujui seluruh persyaratan dari Teheran. Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan tambahan tuntutan baru berupa kompensasi kepada pihak Iran.

Sebelumnya, Pakistan sempat memunculkan optimisme terkait potensi tercapainya kesepakatan damai guna membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut. Namun, dinamika harga yang terjadi pada perdagangan Selasa mengindikasikan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan pembukaan Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Sementara itu, tren permintaan komoditas emas di China memperlihatkan adanya pergeseran perilaku di tingkat konsumen. Berdasarkan catatan China Gold Association, total permintaan emas nasional pada paruh pertama 2026 mengalami kenaikan secara tahunan sebesar 1,2%. Kendati demikian, permintaan untuk kategori perhiasan berbasis volume justru anjlok tajam hingga 33,9% apabila disandingkan dengan rentang waktu yang serupa tahun lalu.

Sebaliknya, minat terhadap pembelian produk emas batangan serta koin investasi justru melompat tinggi hingga 28,4%. China Gold Association menyampaikan bahwa tingginya tingkat volatilitas harga emas di level atas serta pemberlakuan regulasi pajak emas anyar telah memicu perbedaan pola konsumsi di pasar domestik.

"Tingginya permintaan emas untuk aset investasi membuat produk emas batangan dan koin menjadi semakin populer,” tulis China Gold Association, Rabu (12/8/2026).

Lebih lanjut, China Gold Association menilai bahwa lonjakan harga emas yang tinggi turut memberikan tekanan terhadap konsumsi di sektor industri. Hal tersebut tercermin dari penurunan daya serap emas industri akibat membengkaknya beban biaya bahan baku.

Terkini