Peringati Hari Mata Juling Sedunia Kenali Gejala dan Jenis Strabismus

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:55:01 WIB
Ilustrasi Mata Juling.

JAKARTA - Kondisi mata juling atau strabismus sering kali hanya dipandang sebagai masalah estetika luar. Padahal, gangguan ini berpotensi merusak fungsi penglihatan, seperti kemampuan koordinasi kedua bola mata dan persepsi jarak.

Strabismus merupakan keadaan saat sumbu penglihatan kedua mata tidak sejajar ketika fokus melihat objek. Penyimpangan arah mata ini bisa mengarah ke dalam, luar, atas, maupun bawah.

Gangguan kesehatan ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Jika dialami anak tanpa penanganan cepat, strabismus berisiko memicu terjadinya ambliopia atau kondisi mata malas.

Guna memperingati Hari Mata Juling Sedunia atau World Strabismus Day tiap 10 Agustus, masyarakat diminta lebih peka terhadap gejala awal dan tidak menganggap kondisi ini akan pulih dengan sendirinya.

Mengenal Jenis Strabismus
Berdasarkan pola kemunculannya, strabismus dikelompokkan ke dalam beberapa tipe. Pertama adalah strabismus manifest, yakni ketidaksejajaran mata yang nampak jelas serta terjadi secara terus-menerus.

Kedua, strabismus latent yang penyimpangannya tidak terlihat dalam kegiatan harian dan hanya bisa dideteksi via pemeriksaan khusus. Ketiga, strabismus intermittent yang gejalanya hilang timbul saat tubuh lelah atau melamun.

Keempat, strabismus alternating di mana kondisi ketidaksejajaran posisi mata terjadi secara bergantian antara bola mata kanan dan kiri.

Mitos dan Pentingnya Deteksi Dini
Mitos yang menyebut mata juling membawa hoki, akibat salah posisi menyusui, atau bisa sembuh sendiri seiring usia adalah anggapan yang keliru. Strabismus merupakan kondisi medis yang memerlukan evaluasi klinis mendalam.

Wakil Ketua INAPOSS sekaligus Dokter Spesialis Mata Konsultan JEC Eye Hospitals and Clinics Lely Retno Wulandari mengingatkan agar orang tua tidak menunda pemeriksaan jika deviasi mata anak menetap di atas usia empat bulan.

"Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan," kata Lely.

Orang tua patut curiga bila anak sering memiringkan kepala, menyipitkan mata, kesulitan memperkirakan jarak, sering menabrak benda, atau mengeluhkan bayangan ganda.

Adapun pemicu strabismus sangat beragam, mulai dari riwayat genetika, kelahiran prematur, kelainan refraksi, gangguan saraf otot mata, hingga riwayat penyakit hipertensi atau diabetes pada pasien dewasa.

Penanganan Medis
Metode penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab dan usia pasien, meliputi terapi kacamata prisma, latihan koordinasi penglihatan, metode patching untuk mata malas, hingga tindakan bedah otot mata.

Dokter Spesialis Mata Konsultan JEC Eye Hospitals and Clinics Gusti G. Suardana menegaskan bahwa prosedur operasi dilakukan bukan sekadar memperbaiki estetika.

"Keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh," ujarnya.

Penetapan langkah tindakan medis dilakukan secara terukur setelah dokter mengevaluasi derajat deviasi, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan umum pasien.

Terkini