Waspadai Penumpukan Lemak Perut yang Memicu Risiko Diabetes Tipe 2

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:52:02 WIB
Ilustrasi Perut Buncit.

JAKARTA - Penumpukan lemak berlebih di area perut bukan sekadar masalah penampilan, melainkan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes melitus tipe 2.

Penumpukan lemak tersebut, khususnya di sekitar perut, mampu memicu timbulnya resistensi insulin yang menjadi salah satu tahapan krusial dalam perkembangan penyakit tersebut.

Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Sidartawan Soegondo menyampaikan bahwa obesitas tidak boleh dipandang sebatas masalah berat badan atau bentuk fisik belaka.

"Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2," kata Sidartawan.

Menurutnya, ancaman bahaya tersebut patut diwaspadai terutama bagi individu dengan obesitas yang mengalami penumpukan jaringan lemak di bagian perut.

Lemak di area perut membuat sel-sel tubuh menjadi kurang peka terhadap hormon insulin, padahal insulin berfungsi membantu penyerapan glukosa menjadi energi.

Saat terjadi resistensi insulin, organ pankreas dipaksa bekerja ekstra keras memproduksi hormon insulin dalam jumlah lebih banyak demi menjaga kestabilan gula darah.

Apabila keadaan ini berlangsung lama, fungsi pankreas dalam menghasilkan insulin bakal menurun, sementara efektivitas kontrol gula darah juga ikut merosot.

"Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2," jelasnya.

Oleh sebab itu, Sidartawan menilai langkah mengendalikan berat badan merupakan upaya krusial dalam menekan potensi risiko diabetes tipe 2.

Cara Mengendalikan Berat Badan
Sidartawan menegaskan bahwa penanganan obesitas utama harus dimulai dari pembenahan pola hidup, yaitu melalui intervensi pola makan sehat dan rutin berolahraga.

Pola makan yang tepat berguna membatasi asupan kalori, sedangkan olahraga rutin membantu meningkatkan kebugaran fisik serta sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Namun, efektivitas perubahan gaya hidup bisa berbeda pada tiap orang, sehingga dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat untuk kasus obesitas dengan komplikasi.

"Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif," ujarnya.

Sektor medis kini juga menghadirkan opsi terapi seperti kelompok GLP-1 receptor agonist dan dual incretin yang membantu menekan nafsu makan sekaligus mengontrol gula darah.

Rangkaian uji klinis menunjukkan terapi inovatif ini efektif menurunkan berat badan serta memperbaiki parameter indikator gula darah jangka panjang (HbA1c).

Terapi metabolik modern seperti Tirzepatide kini telah tersedia di fasilitas Diabetes Connection Care Eka Hospital Group untuk mendukung pengobatan pasien.

"Setiap penyandang diabetes memiliki kondisi fisik dan respons metabolik yang berbeda. Karena itu, terapi harus direncanakan secara personal berdasarkan evaluasi dan kondisi masing-masing pasien," katanya.

Terkini