Perluas Hilirisasi Mineral, Pemerintah Bidik Bauksit dan Tembaga

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:53:32 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah akan menyiapkan perluasan kebijakan hilirisasi komoditas mineral dengan mempertahankan larangan ekspor sejumlah komoditas sekaligus mendorong pengolahan di dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah perlu mempertahankan kebijakan pelarangan ekspor terhadap sejumlah komoditas mineral guna mendorong transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, pengolahan komoditas di dalam negeri diperlukan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja dan menopang pertumbuhan ekonomi. Dia menuturkan, selain nikel, bauksit dan tembaga menjadi beberapa komoditas yang ke depannya akan terus diarahkan untuk hilirisasi secara optimal.

"Untuk ke depan, saya pikir kan sudah ada beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangannya, di antaranya bauksit dan tembaga, dalam rangka untuk transformasi ekonomi," kata Bahlil seusai acara Peluncuran dan Bedah Buku Bahlil Lahadalia di Jakarta pada Jumat (7/8/2026).

Dia menegaskan pemerintah tidak memiliki banyak pilihan untuk mendorong transformasi ekonomi selain membangun industri pengolahan di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi adalah instrumen pemerintah untuk meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah.

Bahlil menuturkan, pengembangan industri dalam negeri yang optimal akan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Selain bauksit dan tembaga, Bahlil menyebut pemerintah juga mulai merancang pengembangan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ).

"Logam tanah jarang lagi didesain, bahkan sebagian sudah dilakukan oleh Perminas (PT Perusahaan Mineral Nasional)," kata Bahlil.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan investasi di sektor hilirisasi pada kuartal II/2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut setara dengan 29,8% dari total realisasi investasi nasional selama April—Juni 2026.

Rosan mengatakan kontribusi investasi hilirisasi terus mendekati sepertiga dari total investasi nasional, mencerminkan semakin kuatnya minat investor terhadap industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

"Investasi di bidang hilirisasi pada triwulan kedua mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7%. Total kontribusinya hampir mencapai 30%, tepatnya 29,8% dari total realisasi investasi triwulan kedua tahun 2026," kata Rosan.

Terkini