Dukung Penghijauan, Persemaian Sriwijaya Kemampo Produksi 10 Juta Bibit

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:42:31 WIB
Peresmian Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan, Jumat (7/8/2026) [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah memperluas kapasitas produksi bibit guna menopang rehabilitasi hutan dan lahan serta mempercepat gerakan penghijauan di berbagai daerah. Salah satunya melalui Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kabupaten Banyuasin Sumatra Selatan (Sumsel) yang memiliki kapasitas produksi hingga 10 juta bibit per tahun.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan penguatan jaringan persemaian menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung program penanaman pohon yang digulirkan secara nasional. Ketersediaan bibit berkualitas dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan keberlanjutan program tersebut.

"Karena memang persemaian bibit unggul yang baik akan dapat menghijaukan desa-desa kami, kota, kabupaten yang ada di Indonesia. Kementerian Kehutanan sendiri sudah memiliki 59 tempat persemaian, di mana ada 9 pusat persemaian besar dan ada 50 unit persemaian yang kapasitasnnya lebih kecil," kata Raja Juli saat meresmikan Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Banyuasin, Sumsel, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, pusat persemaian yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia memiliki kapasitas produksi sekitar 5 juta-10 juta bibit per tahun. Adapun unit persemaian dengan skala lebih kecil mampu memproduksi sekitar 500.000 bibit per tahun dan dapat ditingkatkan hingga 1 juta bibit apabila kapasitasnya dioptimalkan. Jaringan tersebut tidak hanya memasok bibit tanaman kayu. Pemerintah juga mengembangkan bibit tanaman endemik hingga tanaman estetika untuk mendukung penghijauan sekaligus menjaga keberadaan jenis tanaman yang memiliki nilai ekologis.

"Di 59 persemaian kami ini ada bermacam-macam jenis tanaman, baik kayu-kayuan, tanaman endemik hingga tanaman estetika. Kami berupaya ini bisa mencegah kepunahan tanaman-tanaman yang penting bagi negara kami," kata dia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan Diah Murtiningsih mengatakan pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo menjadi salah satu fasilitas dengan kapasitas produksi besar dalam jaringan persemaian nasional. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan seluas 60.000 meter persegi dengan kapasitas produksi 5 juta-10 juta batang bibit per tahun. Jenis tanaman juga cukup beragam mencakup kayu-kayuan, tanaman serbaguna, dan tanaman estetika.

"Jadi memang pusat persemaian ini sudah lengkap, karena tempat ini dirancang untuk memproduksi beragam bibit kayu-kayuan, tanaman serbaguna, serta tanaman estetika. Tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung agenda pemulihan lingkungan dan pembangunan lanskap hijau secara berkelanjutan," jelas Diah.

Pembangunan pusat persemaian tersebut berlangsung pada 2023-2025. Pemerintah juga menggandeng pihak swasta dalam pembangunan fasilitas itu, salah satunya APP Group.

"Kolaborasi ini jadi wujud sinergi pemerintah dan dunia udaha dalam mengakselerasi pembangunan kehutanan berkelanjutan," kata Diah.

Secara nasional, Kementerian Kehutanan saat ini memiliki 59 fasilitas persemaian yang terdiri atas 9 pusat persemaian dan 50 unit persemaian. Jaringan tersebut diarahkan untuk memperluas akses bibit dan mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di berbagai wilayah.

Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata mengatakan keterlibatan perusahaan dalam pembangunan Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung pemerintah dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan kehutanan berkelanjutan.

"Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program lingkungan sekaligus memastikan manfaat pusat persemaian dapat diakses oleh masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan," kata dia.

Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo nantinya menyediakan bibit secara gratis bagi berbagai pihak yang menjalankan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan serta penghijauan lingkungan. Bibit tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat, komunitas, kelompok masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, TNI/Polri, Pramuka, hingga pihak lain yang terlibat dalam gerakan penanaman.

Menurut Suhendra, fasilitas tersebut tidak hanya mengejar peningkatan volume produksi, tetapi juga menggunakan pendekatan produksi modern untuk menjaga kualitas bibit dan meningkatkan efisiensi pengelolaan.

"Selain memperkuat volume produksi, pusat persemaian ini mengedepankan pendekatan produksi modern untuk menjaga kualitas bibit, meningkatkan efisiensi pengelolaan, dan memperbesar peluang hidup tanaman setelah didistribusikan dan ditanam," kata dia.

Pengembangan fasilitas tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat jaringan persemaian berbasis teknologi dan memperlancar distribusi bibit ke wilayah yang membutuhkan.

Terkini