Psikolog Ungkap Hubungan Toksik Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:29:01 WIB
Ilustrasi Hubungan Toksik.

JAKARTA - Ikatan pernikahan atau asmara yang harmonis umumnya menjadi tumpuan dukungan emosional serta rasa aman bagi setiap individu. Sebaliknya, relasi yang kerap dipenuhi perselisihan, celaan, maupun minim kasih sayang tak sekadar merusak kualitas hubungan, melainkan juga mengancam kesehatan mental.

Riset terbaru dalam Journal of Affective Disorders mengungkapkan bahwa individu yang terjebak dalam jalinan asmara penuh tekanan memiliki keterpaparan risiko depresi yang jauh lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan bersama pasangan memegang peranan krusial bagi kesejahteraan psikologis.

Pakar psikologi Universitas Colorado Boulder, Mark Whisman beserta timnya, memaparkan bahwa keretakan hubungan bukan sekadar berjalan beriringan dengan gangguan jiwa, melainkan mampu mendongkrak risikonya secara langsung meski faktor penentu lainnya telah diperhitungkan.

Hubungan toksik dapat meningkatkan risiko depresi.

Selama ini, sebagian kalangan menduga bahwa gejala depresi pada orang yang mengalami konflik asmara lebih dipicu oleh karakter bawaan, seperti sifat yang terlampau sensitif atau mudah cemas. Namun, temuan ilmiah menunjukkan gambaran sebaliknya.

Tim peneliti mencermati data milik lebih dari 4.600 orang dewasa yang menjadi partisipan Health and Retirement Study. Para responden dipantau selama kurun dua tahun guna mendeteksi apakah dinamika hubungan mereka memicu kemunculan episode depresi mayor.

Demi menjaga ketepatan hasil analisis, para peneliti membandingkan kelompok yang tertekan dalam hubungan dengan kelompok yang memiliki ikatan relatif sehat. Kedua kelompok tersebut disepadankan berdasarkan bermacam indikator pemicu depresi, seperti riwayat medis mental, kondisi fisik, tingkat optimisme, hingga tipe kepribadian.

Hasil akhir membuktikan bahwa mereka yang berada dalam relasi penuh tekanan tetap menanggung risiko depresi lebih tinggi dibanding individu dengan hubungan yang sehat. Hal ini menandakan bahwa kualitas hubungan secara nyata memberi pengaruh langsung terhadap kesehatan mental seseorang, bukan semata faktor kepribadian.

Seperti apa hubungan yang dianggap tidak sehat?

Penilaian kualitas hubungan pada studi tersebut diukur lewat enam pertanyaan seputar interaksi positif serta negatif antar pasangan. Bentuk interaksi positif mencakup kemampuan pasangan memahami perasaan, memberi sokongan moral, dan bisa diandalkan pada saat sulit.

Adapun interaksi negatif mencakup seberapa sering pasangan melontarkan kritik, mengecewakan, atau memicu ketegangan emosi. Seseorang yang dominan mengalami interaksi negatif serta hampa sokongan emosional dikategorikan menanggung tingkat tekanan hubungan yang tinggi.

Mengapa hubungan yang buruk bisa memengaruhi kesehatan mental?

Relasi romantis merupakan salah satu fondasi sokongan emosi paling besar dalam fase kehidupan dewasa. Ketika ikatan tersebut terus-menerus diwarnai bentrokan, seseorang riskan diterpa stres berkepanjangan.

Stres kronis ini berpotensi merusak mood, mengikis rasa percaya diri, memicu rasa kesepian mendalam, hingga mengubur harapan hidup. Bila dibiarkan berlarut-larut, kondisi tersebut sangat mudah berkembang menjadi depresi.

Sehaluan dengan itu, hubungan yang hangat dan saling mendukung dapat menjadi perisai pelindung bagi kesehatan psikologis karena membantu seseorang melewati ujian hidup secara lebih kuat.

Penting mencari bantuan jika hubungan mulai memengaruhi kesehatan mental.

Para ilmuwan menyarankan agar penanganan problem asmara yang sudah mengganggu kesehatan mental tidak hanya difokuskan pada satu individu saja. Terapi pasangan dapat menjadi jalan keluar untuk membenahi pola komunikasi, meredakan perselisihan, serta membangun ulang ikatan yang sehat.

Akan tetapi, jika pasangan belum siap melakoni terapi bersama, konseling individu atau psikoterapi tetap sangat bermanfaat guna meredakan beban emosi akibat konflik tersebut.

Apabila seseorang mulai mengalami kepedihan berlarut, kehilangan minat terhadap aktivitas harian, sulit berkonsentrasi, atau merasakan gejala depresi lainnya akibat problem hubungan, berkonsultasi kepada psikolog maupun psikiater menjadi langkah awal yang amat tepat.

Pada akhirnya, merawat kualitas ikatan asmara bukan cuma penting demi menjaga keharmonisan bersama pasangan, melainkan juga bentuk investasi jangka panjang bagi kesehatan jiwa.

Terkini