Menaker Yassierli Minta Penguatan Pasar Kerja Sesuai Dunia Industri

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:43:02 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli.

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan bahwa pemerintah tengah memacu penguatan pasar kerja nasional guna memastikan keahlian para tenaga kerja berimbang dengan kebutuhan sektor industri.

Dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu, Menaker Yassierli menegaskan bahwa strategi ini diambil untuk menjembatani kesenjangan (mismatch) antara kompetensi pencari kerja dan kualifikasi yang dicari oleh dunia usaha.

“Pasar kerja saat ini yang dicari adalah keterampilan (skills), dan saya yakin bahwa skills first adalah salah satu kunci agar kami tetap kompetitif,” ujar Yassierli.

Menurut Yassierli, kriteria industri bergerak sangat dinamis, sementara ketersediaan SDM dengan keahlian yang relevan masih terbilang terbatas. Masalah ini memicu banyak korporasi mengalami hambatan saat menjaring karyawan baru.

Yassierli membeberkan bahwa ada lebih dari 80 persen perusahaan di tataran global yang mengaku sangat kesulitan memperoleh tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian yang pas.

Sementara itu, sekitar 36 persen buruh atau pekerja terjebak dalam kondisi ketidaksesuaian bidang kerja (mismatch), yaitu ketika keahlian individu tidak cocok dengan ekspektasi pekerjaan.

“Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pendidikan formal dan kualifikasi akademis di atas kertas tidak lagi menjadi jaminan mutlak kompetensi nyata seseorang,” kata Yassierli.

Guna mengatasi persoalan ini, pihak pemerintah bertekad mengubah pola lama menjadi pasar kerja berbasis keahlian (skills-based), yakni sistem penyerapan SDM yang memprioritaskan kompetensi riil dalam proses seleksi maupun pembinaan karier.

Yassierli memaparkan, merujuk pada acuan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), penerapan ekosistem kerja berbasis kompetensi ini diterapkan lewat dua pilar utama.

Langkah awal difokuskan pada penguatan kapasitas keterampilan melalui skema pelatihan modular serta sertifikasi mikrokredensial demi pembuktian kompetensi yang spesifik.

Langkah berikutnya adalah memperluas legitimasi atas keterampilan yang diampu seseorang lewat program Rekognisi Pembelajaran Lampau, serta mengajak jajaran perseroan beralih ke rekrutmen berbasis kecakapan nyata ketimbang mengandalkan ijazah semata.

Yassierli berharap kolaborasi erat antara pihak pengambil kebijakan dan sektor usaha dapat mengakselerasi hadirnya ekosistem tenaga kerja yang adaptif, sehingga sanggup mendongkrak daya saing serta fondasi ekonomi nasional.

Terkini