Fenomena Lazy Ambitious Saat Punya Mimpi Besar tapi Sulit Memulai

Selasa, 04 Agustus 2026 | 02:23:31 WIB
Ilustrasi Lazy Ambitious.

JAKARTA - Belakangan ini, istilah lazy ambitious ramai menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai media sosial seperti TikTok, Threads, hingga Instagram.

Istilah tersebut dipakai untuk memotret kondisi seseorang yang memendam cita-cita besar dan target tinggi, tetapi justru mengalami hambatan untuk mengambil langkah awal.

Sekilas, fenomena ini tampak seperti rasa malas biasa, padahal lazy ambitious tidak berarti seseorang kehilangan motivasi atau keinginan untuk berkembang.

Sebaliknya, mereka justru menyimpan ambisi besar, rentetan ide, serta perencanaan matang, namun sering terjebak dalam keraguan sebelum melangkah.

Kondisi tersebut erat kaitannya dengan generasi muda, khususnya Gen Z, yang tumbuh besar di tengah era digital dengan paparan informasi melimpah.

Merujuk informasi Universitas Ciputra, lazy ambitious menggambarkan seseorang yang memiliki cita-cita tinggi namun kesulitan memulai maupun menjaga konsistensi.

Mereka umumnya telah merancang berbagai strategi dan target, tetapi saat waktunya mengeksekusi, keraguan muncul sehingga langkah pertama terus tertunda.

Dampaknya, berbagai tujuan hanya tertahan sebagai rencana yang berujung pada munculnya rasa cemas, bersalah, hingga tekanan mental.

Kebiasaan menunda ini dipicu oleh beberapa faktor utama, seperti overthinking yang menghabiskan waktu serta perfeksionisme yang menuntut kesiapan sempurna.

Selain itu, gangguan dari distraksi digital, rasa takut akan kegagalan, serta kebiasaan membandingkan diri di media sosial ikut memperparah kondisi tersebut.

Kendati demikian, fenomena lazy ambitious dapat diatasi secara bertahap melalui pembentukan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Langkah yang dapat diterapkan antara lain memecah target besar menjadi tindakan harian sederhana dan berfokus pada satu tahapan secara bertahap.

Prinsip done is better than perfect juga perlu diterapkan, disamping membatasi distraksi digital dan memberi apresiasi atas tiap progres kecil.

Para ahli produktivitas menyarankan penggunaan strategi micro-steps untuk membagi pekerjaan menjadi bagian terkeceil demi membangun momentum bertindak.

Terkini