Proyeksi BPS Produksi Jagung Januari September 2026 Turun 1,07 Persen

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:46:31 WIB
Ilustrasi petani jagung.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan volume produksi jagung dalam rentang Januari sampai September 2026 bakal menyentuh angka 12,67 juta ton, menyusut 1,07 persen disandingkan dengan periode yang sama pada 2025.

“Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang bulan Januari sampai dengan September tahun 2026 diperkirakan mencapai 12,67 juta ton atau mengalami penurunan sebanyak 0,14 juta ton atau menurun 1,07 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Jakarta, Senin.

Mengacu pada hasil pemantauan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) edisi Juni 2026, total cakupan area panen selama Januari–September 2026 ditaksir sebesar 2,17 juta hektare, berkurang 0,03 juta hektare atau terkoreksi 1,20 persen secara tahunan.

Memasuki Juni 2026, luasan panen jagung pipilan tercatat sekitar 0,25 juta hektare, lebih rendah ketimbang capaian 0,26 juta hektare pada Juni 2025.

Hasil produksi jagung pipilan kering pada bulan tersebut diperkirakan berada di kisaran 1,50 juta ton, merosot dari perolehan 1,55 juta ton pada kurun waktu setara tahun terdahulu.

Di sisi lain, Ateng memaparkan potensi luas lahan panen sepanjang Juli hingga September 2026 diperkirakan berada di angka 0,67 juta hektare, atau melorot 4,39 persen dibandingkan periode setara pada 2025.

Penurunan yang relatif lebih tajam diprediksi terjadi dari segi volume produksi. Hasil panen jagung pipilan kering selama Juli–September 2026 diproyeksikan sebesar 3,98 juta ton, tergerus 0,28 juta ton atau menyusut 6,48 persen secara tahunan.

Estimasi luas panen tersebut juga memperhitungkan komoditas tanaman jagung yang berpotensi dipetik saat masih muda maupun dialokasikan sebagai pakan hijau ternak, sehingga tidak sepenuhnya diolah menjadi jagung pipilan.

Adapun angka taksiran tersebut masih berpeluang bergeser mengikuti dinamika di lapangan, termasuk potensi gangguan hama, musibah banjir, kekeringan, serta pergeseran jadwal panen oleh para petani.

Terkini