Menperin Agus Gumiwang: Persaingan Global Bergeser ke Antarkawasan

Kamis, 30 Juli 2026 | 22:27:02 WIB
Menperin: Persaingan Investasi Kini Antarkawasan, Bukan Antarnegara [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa dinamika persaingan dalam memikat arus penanaman modal global pada saat ini tidak lagi sekadar berlangsung antarnegara, melainkan telah bergeser menjadi persaingan antarkawasan industri, sehingga tingkat daya saing masing-masing kawasan memegang peranan kunci bagi masuknya investasi ke tanah air.

Menurut pemaparan Agus, korporasi multinasional yang berencana mendirikan fasilitas pabrik baru kini tidak lagi membandingkan Indonesia secara utuh dengan negara lain, melainkan langsung mengomparasikan kawasan industri tertentu di Indonesia dengan kawasan industri serupa di negara-negara kompetitor.

"Yang mereka bandingkan bukanlah Indonesia melawan Vietnam. Yang mereka bandingkan adalah sebuah kawasan di Jawa Tengah melawan sebuah kawasan di Binh Duong," kata Agus saat membuka Rapat Kerja Nasional Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan bahwa pergeseran tersebut memperlihatkan bagaimana skala unit kompetisi ekonomi global telah bermutasi dari level makro kenegaraan menuju level mikro kawasan.

Atas dasar itulah, ia memandang setiap kebijakan maupun langkah strategis yang diputuskan oleh para pengelola kawasan industri akan berdampak langsung terhadap penentuan tingkat daya saing sektor industri nasional.

Di tengah situasi fragmentasi perdagangan internasional, berbagai disrupsi rantai pasok, hingga dinamika ketegangan geopolitik global, Agus menilai bahwa Indonesia masih menyimpan peluang emas untuk memperkuat posisi tawarnya sebagai salah satu basis utama manufaktur dunia.

"Perusahaan yang hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain tidak sedang menunggu Indonesia. Yang mereka bandingkan adalah sebuah kawasan di Jawa Tengah melawan sebuah kawasan di Binh Duong," ujarnya. (Catatan: bagian kutipan kedua merujuk pada pernyataan berikut): "Perusahaan yang hari ini sedang memindahkan produksinya dari satu negara ke negara lain tidak sedang menunggu Indonesia. Mereka sedang membandingkan kami dengan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko, dan mereka melakukannya dalam hitungan bulan, bukan tahun," ujarnya.

Menurut pandangan Agus, kawasan industri kini tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai penyedia lahan kavling atau penyedia utilitas semata, melainkan wajib bertransformasi secara menyeluruh menjadi sebuah ekosistem industri terpadu yang sanggup mengakselerasi realisasi investasi secara cepat.

Ia menegaskan bahwa esensi utama yang dibidik oleh para investor adalah kecepatan dalam mengonversi komitmen penanaman modal menjadi aktivitas operasional produksi beserta jaminan kepastian dalam prosedur bisnis.

Oleh karena itu, Agus mendorong seluruh pengelola kawasan industri agar bertransformasi menjadi investment enabler yang andal dalam mengintegrasikan rantai pasok, fasilitas pusat inovasi, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta memimpin transisi menuju penerapan industri hijau.

Ia turut menggarisbawahi tiga elemen penentu utama yang akan menentukan tingkat ketahanan daya saing kawasan industri ke depan, meliputi aspek perizinan yang cepat serta transparan, ketersediaan infrastruktur pendukung yang memadai, serta jaminan pasokan energi, terkhusus pemanfaatan energi baru terbarukan.

Menurut dia, penyediaan akses energi bersih saat ini bukan lagi sekadar isu pelestarian lingkungan semata, melainkan telah menjelma menjadi instrumen persyaratan pasar global mengingat banyak pelaku pembeli internasional, contohnya dari kawasan Eropa, mulai mempertanyakan sumber energi yang dipakai dalam rantai proses produksi.

"Kalau kawasan tidak mampu menjawab pertanyaan itu, mereka berisiko kehilangan penyewa, bukan karena regulasi kami, melainkan karena regulasi negara tujuan ekspor," kata Agus.

Terkini