Data Lapangan TEP Perkuat Kebijakan Ekonomi Transmigrasi

Rabu, 29 Juli 2026 | 20:20:01 WIB
AHY: Data Lapangan TEP Jadi Dasar Kebijakan Ekonomi Transmigrasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengutarakan bahwa data lapangan dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) bakal dijadikan landasan dalam merumuskan kebijakan pengembangan sektor ekonomi di wilayah transmigrasi.

AHY menyampaikan bahwa temuan data tersebut nantinya berfungsi sebagai pelengkap informasi yang telah dikantongi oleh pemerintah dalam hal memetakan potensi, tantangan infrastruktur, aksesibilitas, serta prospek usaha di tiap-tiap kawasan.

“Data yang didapatkan tentu menjadi referensi empiris, melengkapi data yang sudah dimiliki oleh pemerintah saat ini,” kata AHY, seusai pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026, di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan penjelasannya, proses pemetaan secara langsung di lapangan amat dibutuhkan mengingat masing-masing wilayah mempunyai corak ekonomi yang berlainan, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, ekonomi kreatif, bidang industri, hingga hilirisasi.

Hasil dari pemetaan itu nantinya bakal dirampungkan secara akademis dan ilmiah oleh kalangan mahasiswa, peneliti, dosen, serta unsur sivitas akademika lainnya, sehingga keabsahannya teruji serta layak diterapkan dalam proses pembuatan kebijakan.

“Ketika bertemu antara masukan akademis dengan kebijakan yang sifatnya strategis di tingkat pusat, ini benar-benar bisa menjadi kebijakan yang efektif dan bisa dijalankan dengan baik,” ujarnya.

AHY memaparkan bahwa Indonesia saat ini menaungi sebanyak 154 kawasan transmigrasi dengan tingkat kemajuan yang bervariasi. Sebagian wilayah terpantau telah berkembang menjadi sentra yang produktif, sementara sebagian lainnya masih terkendala oleh minimnya ketersediaan infrastruktur serta jaringan konektivitas.

Berbagai hambatan tersebut, lanjutnya, berimbas pada laju aktivitas ekonomi di sejumlah kawasan yang belum berjalan secara maksimal, bahkan memicu sebagian warga memilih meninggalkan daerah yang sudah lama mereka huni.

“Ada 154 kawasan transmigrasi yang kami harapkan juga bisa hidup. Sebagian sukses, sebagian belum sukses, misalnya karena keterbatasan infrastruktur dan konektivitas,” ujar dia.

Oleh sebab itu, para anggota Tim Ekspedisi Patriot diberikan mandat untuk mengidentifikasi pelbagai kendala yang meredam perputaran roda ekonomi, di samping menggali potensi-potensi baru yang berpotensi disulap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi alternatif.

AHY berpandangan bahwa riset langsung ke lapangan ini mampu mempermudah pemerintah dalam menetapkan bentuk intervensi yang tepat sasaran, baik lewat pembangunan infrastruktur fisik, pembukaan akses pasar yang lebih luas, pengembangan komoditas andalan, maupun sokongan terhadap sektor industri dan hilirisasi.

Agenda Tim Ekspedisi Patriot 2026 ini melibatkan total 1.476 orang peserta yang diagendakan untuk mengemban tugas selama kurun waktu empat bulan di 53 titik kawasan transmigrasi.

Seluruh partisipan berasal dari perguruan tinggi mitra yang terdiri dari ketua tim, anggota kelompok, jajaran dosen, peneliti, serta tenaga pendamping yang terjun langsung untuk melakukan riset, pemetaan potensi, sekaligus mendampingi warga setempat.

“Para mahasiswa ini bisa langsung turun ke lapangan, berada di kawasan transmigrasi, dan memetakan potensi wilayah,” kata AHY.

Menurut pandangan AHY, upaya memajukan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan yang dirumuskan di tingkat pusat saja, melainkan wajib disusun dengan berpijak pada realitas di lapangan serta kebutuhan riil masyarakat di masing-masing daerah.

Ia pun menaruh asa agar pelbagai masukan serta rekomendasi yang diberikan oleh Tim Ekspedisi Patriot dapat ditindaklanjuti secara nyata ke dalam bentuk program kerja guna mendongkrak kegiatan produksi, membukan lapangan pekerjaan baru, menaikkan nilai tambah komoditas, serta mendongkrak tingkat kesejahteraan hidup masyarakat.

Terkini