Sulbar Buka Peluang Investasi EBT Berkapasitas 1.700 MW

Kamis, 23 Juli 2026 | 22:03:01 WIB
Sulawesi Barat Tawarkan Investasi Energi Baru Terbarukan [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat meningkatkan eskalasi dalam memikat penanaman modal pada bidang energi baru terbarukan (EBT) lewat pembukaan ruang pengembangan instalasi pembangkit listrik dengan daya mencapai kira-kira 1.700 megawatt (MW), sebagai upaya menyokong transisi energi sekaligus menumbuhkan sentra ekonomi baru di wilayah timur Nusantara.

Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana di Mamuju, Rabu (22/7/2026), mengemukakan bahwa tekad tersebut diwujudkan melalui agenda pertemuan bersama jajaran manajemen Limes Renewable Energy guna membahas prospek investasi pembangkit listrik ramah lingkungan di wilayah tersebut.

"Pertemuan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Sulbar untuk membuka diri terhadap investasi yang masuk guna mengelola potensi energi daerah, khususnya pembangunan pembangkit listrik," kata Junda.

Ia menuturkan bahwa pihak pemerintah daerah bakal memaksimalkan kewenangan institusional yang dimiliki demi mempermudah masuknya aliran investasi strategis, mengingat wilayah Sulbar menyimpan kekayaan sumber energi terbarukan yang sangat variatif namun belum tergarap secara maksimal.

Berdasarkan pemaparannya, Sulbar setidaknya mempunyai 11 aliran sungai berukuran besar yang menyimpan potensi besar untuk diubah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). 

Di samping itu, letak astronomis wilayah yang dekat dengan garis khatulistiwa memberikan keunggulan komparatif bagi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sementara kawasan Kabupaten Majene diidentifikasi memiliki potensi hembusan angin untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

BACA JUGA Potensi Energi Terbarukan di Laut Nusa Penida Tembus 376,8 MW PLN Eksekusi 22,57 GW Proyek Energi Terbarukan per Mei 2026 BPS: Ekspor Nonmigas ke AS Tumbuh 5,97%, Ditopang Produk Energi Terbarukan

Junda membeberkan bahwa ketertarikan para investor terhadap sektor EBT di Sulbar menunjukkan tren kenaikan yang positif. Kapasitas potensi pembangkit sejumlah 1.700 MW yang tersebar di pelbagai titik dinilai menjadi magnet tersendiri bagi ekspansi investasi yang sanggup mendongkrak pasokan setrum sekaligus menggeliatkan roda perekonomian warga lokal.

"Minat investasi yang besar ini menunjukkan bahwa Sulbar memiliki daya tarik yang kuat bagi investor di sektor energi terbarukan," ujarnya.

Ia menaruh harapan besar agar penanaman modal EBT ini tidak sekadar menghasilkan tambahan daya listrik terpasang, melainkan pula mampu memicu efek berganda (multiplier effect) berupa penyerapan tenaga kerja, penguatan ombro usaha mikro, hingga pemantapan infrastruktur penunjang pembangunan daerah.

Business Development Director Limes Renewable Energy William Runturambi menerangkan bahwa korporasi asal Italia yang dipimpinnya itu telah memiliki rekam jejak dalam merintis proyek energi hijau di berbagai negara dengan titik berat pada sektor PLTS dan PLTB. 

Khusus untuk teritori Asia, perusahaan tersebut tercatat telah menanamkan modal di Indonesia dan Vietnam, di mana kiprah pembangunannya di tanah air dimulai lewat pengerjaan proyek PLTS sejak tahun 2023 di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menurut keterangan William, pengalaman empiris tatkala membangun instalasi PLTS di NTT membuktikan bahwa kolaborasi harmonis antara pemerintah daerah dan investor mampu menghadirkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat jaminan pasokan energi bersih bagi masyarakat setempat.

Ia merinci bahwa berdasarkan standar operasional perusahaan, pembangunan fasilitas PLTS memerlukan ketersediaan lahan seluas kurang lebih 1,2 hektare untuk setiap kapasitas satu MW. William menambahkan pula bahwa pihak Limes telah mengantongi nota kesepahaman bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkenaan dengan pengembangan pembangkit listrik di kawasan Indonesia Timur.

"Dalam skema tersebut pemerintah daerah menyiapkan lahan, sedangkan perusahaan membangun infrastruktur pembangkit listriknya," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat Bujaeramy Hassan mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah titik koordinat wilayah yang telah masuk ke dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sehingga berpeluang diprioritaskan sebagai basis pengembangan investasi PLTS, di antaranya meliputi kawasan Kabupaten Mamuju Tengah serta Kabupaten Polewali Mandar.

Satu di antara area yang dipandang paling potensial adalah Bendungan Budong-Budong yang terletak di Kabupaten Mamuju Tengah. Memiliki luas genangan waduk sekitar 369 hektare, bendungan tersebut menyimpan potensi pembangunan PLTS terapung berdaya sekitar 73,83 MW yang sudah terakomodasi secara resmi dalam RUPTL. 

Terlebih lagi, lokasi waduk itu turut menyimpan potensi pendirian pembangkit listrik tenaga minihidro sebesar 1,63 MW yang masih memerlukan tahapan pengkajian teknis mendalam.

Menurut pandangan Bujaeramy, optimalisasi badan bendungan sebagai lokasi PLTS terapung bisa menjadi solusi alternatif yang efektif dalam mendayagunakan aset infrastruktur sekaligus mengakselerasi adopsi energi bersih di wilayah Sulbar.

"Pengembangan PLTS terapung di Bendungan Budong-Budong dapat diusulkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum sebagai pengelola bendungan untuk mendukung pemanfaatan potensi energi terbarukan di daerah," katanya.

Terkini