Investasi Hilirisasi Bauksit Naik 193 Persen pada Kuartal II 2026

Selasa, 21 Juli 2026 | 19:56:01 WIB
BKPM: Investasi Hilirisasi Bauksit Kuartal II 2026 Naik 193 Persen [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani memaparkan bahwa realisasi penanaman modal pada sektor hilirisasi bauksit melonjak tajam sebesar 193 persen hingga menyentuh angka Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026, bila dikomparasikan dengan perolehan triwulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp13,7 triliun.

Lonjakan nilai tersebut sekaligus mendaulat bauksit sebagai komoditas dengan pencapaian investasi hilirisasi tertinggi di sepanjang kuartal II 2026, sekaligus menggeser posisi nikel yang selama ini konsisten memimpin sektor pengolahan mineral.

"Kalau kami lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini, ada shifting, bauksit menjadi nomor satu, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel," kata Rosan dalam keterangan resmi, yang diterima di Jakarta, Selasa.

Besaran nilai investasi bauksit tersebut sukses melampaui catatan penanaman modal pada hilirisasi nikel yang berada di angka Rp29,4 triliun, disusul kemudian oleh komoditas tembaga sebesar Rp16,7 triliun, besi baja senilai Rp13,2 triliun, pasir silika sejumlah Rp4 triliun, serta ragam komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, hingga logam tanah jarang yang secara akumulatif mencapai Rp4,7 triliun.

Secara keseluruhan, total realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 tercatat menembus angka Rp152,7 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,7 persen apabila dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya, dengan porsi sumbangan mencapai 29,8 persen dari total keseluruhan realisasi investasi nasional yang meraup Rp511,8 triliun.

Menurut pemaparan Rosan, eskalasi penanaman modal ini terdorong oleh masifnya pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit, baik yang digagas oleh para investor domestik maupun penanam modal asing.

Pergeseran tren tersebut, imbuhnya, mengindikasikan bahwa agenda hilirisasi nasional mulai bergeser secara lebih merata dan tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada industri nikel semata.

Ia juga menyampaikan bahwa kenaikan investasi sektor hilirisasi ini tidak sekadar mendatangkan nilai tambah bagi dunia industri, melainkan turut memberikan kontribusi signifikan terhadap perluasan kesempatan kerja.

Catatan BKPM menunjukkan bahwa realisasi penanaman modal sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 telah berhasil menyerap sebanyak 1.448.862 tenaga kerja, yang berarti terjadi peningkatan sekitar 15 persen jika disandingkan dengan rentang waktu yang sama pada tahun lalu.

"Dan ini, kalau di triwulan kedua saja, penyerapan tenaga kerjanya 742.263 orang atau meningkat 5,1 persen," ungkap Rosan.

Salah satu proyek strategis pengolahan bauksit yang menjadi tulang punggung pengembangan hilirisasi nasional adalah pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikembangkan oleh Grup MIND ID melalui sinergi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Fasilitas pengolahan tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai satu juta ton alumina setiap tahunnya, dengan kebutuhan pasokan bahan baku mentah berupa bauksit sekitar 3,3 juta ton per tahun guna memperkokoh rantai pasok industri aluminium nasional.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno menyambut positif tren peningkatan investasi hilirisasi bauksit yang dinilai merefleksikan semakin bergairahnya penanaman modal pada sektor pengolahan mineral di luar komoditas nikel.

"Kami menyambut gembira capaian investasi di sektor hilirisasi bauksit melalui peningkatan tajam investasi smelter. Jika dilihat dari perkembangannya di masa lalu, kami memang menunggu lebih banyak lagi investasi di sektor smelter bauksit karena cenderung tertinggal dibandingkan investasi di sektor nikel," ucap Eddy.

Ia menaruh harapan besar agar pembangunan smelter tidak berhenti sebatas pada tahapan pengolahan bahan mentah awal saja, melainkan terus berlanjut hingga ke ranah hilir agar negara bisa mendulang nilai ekonomis yang jauh lebih optimal.

"Oleh karena itu, kami berharap investasi smelter bauksit juga diikuti oleh pengembangan industri hilir dari bauksit lebih lanjut, agar negara dapat memaksimalkan nilai tambah dari produk hilir bauksit," tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi XII DPR Syarif Fasha turut memberikan apresiasi atas pencapaian positif peningkatan investasi ini, seraya berharap momentum pertumbuhan tersebut dapat dijaga secara konsisten guna memberikan dampak positif berkesinambungan bagi perekonomian tanah air.

"Terkait capaian ini perlu diapresiasi. Meski begitu tren ini jangan hanya bersifat sementara tapi harus konsisten dan bila perlu bisa ditingkatkan," kata Syarif.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kehadiran hilirisasi agar senantiasa menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi daerah-daerah yang menjadi lumbung sumber daya alam melalui mekanisme pembagian hak yang berkeadilan.

"Yang perlu diperhatikan pemerintah adalah kami perlu menjaga dengan baik daerah penghasil sumber daya dan para pengelolanya. Misalnya, dana bagi hasil untuk daerah jangan dipotong atau diutangi terus serta berikan hak daerah sesuai undang-undang yang berlaku," ujar dia.

Terkini